pinterest.com

Bersiaplah Sakit Hati dan Kecewa Jika Niat Menikahmu Karena Ingin Romantis dan Bahagia

Jika harapanmu setelah menikah adalah untuk mendaptakan kebahagian, hidup uwu dan selalu romantis maka bersiaplah kecewa.  Karena tujuan menikah itu bukan mendapatkan kebahagiaan. Menikah itu tentang tanggung jawab yang harus diemban dan dilaksanakan, sehingga bukan sekedar romantis apalagi mendapatkan kebahagiaan. Setelah menikah justru masalah akan semakin datang dam bermunculan, maka siapkan diri untuk menerima, memahami dan mengerti pasangan juga kondisi kehidupan rumah tangga yang dijalani nantinya. Jangan sampai niat menikah itu hanya ingin mendapatkan perlakuan romantis dan ingin selalu bahagia. 

1. Sebelum Menginginkan Bahagia, Sudah Siapkah Dengan Lika-liku Rumah Tangga? 

Semua orang hidup pasti merasakan kesedihan dan kebahagaiaan. Semua orang mendapatkan cobaan dan ujian,  bahkan cobaan itu akan selalu datang selama kita masih bernafas. Semua orang yang menikah pasti mendapatkan ujian hanya saja setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Sebelum berhayal tentang kebahagiaan dalam pernikahan, sudah siapkah dengan lika-liku rumah tangga yang sangat sulit bahkan menguras emosi. Butuh kesabaran dan ketabahaan dalam menjalaninya, persiapkan diri dari segi mental terlebih dahulu karena kesiapan mental sangat mempengaruhi sikap, cara seseorang menerima dan melewati setiap ujian dan tantangan. 

2. Ingin Romantis Seperti Pasangan Lain,  Sudah Siapkah Dengan Sederet Tanggung Berat? 

Siapa yang tidak merasa iri ketika melihat kebahagiaan dan keromantisan pasangan yang sudah menikah?  Tapi poin penting dari menikah itu sama sekali bukan ingin romantis dengan pasangan, melainkan ada tanggung jawab yang sangat berat yang harus dilaksanakan. Jauh sebelum ingin bersikap romantis dengan pasangan maka harus bersiap melakukan sederet tanggung jawab tanpa mengeluh sedikit pun meski lelah, meski capek bahkan merasa bosan. Ketika sudah menikah kehidupan akan sangat berubah, jadi persiapkan diri menanggung tanggung jawab terlebih dahulu sebelum ingin bersikap uwu dan bersikap romantis dengan pasangan. 

3.  Sebelum Menerima Kelebihannya, Bisakah Menerima Segala Keburukan?

Semua orang pasti punya kekurangan dan kelebihan, sebagai pasangan kamu harus tahu kekurangan pasanganmu apa. Kamu harus bisa menerima pasanganmu dengan baik dan komplit. Tidak bisa kamu hanya menerima dia yang tampan, baik dan lainyya namun tidak mau menerima kekurangannya. Jika dia kurang mampu misalnya maka kamu harus bisa menerima bahkan harus bisa menerima dia dari nol. Jangan sampai menginginkan seseorang namun enggan mau menerima kekuranganya. Jika kamu sudah menerima semua keburukannya tanpa terkecuali maka kamu berhak bersamanya. Karena yang tidak bisa menerima kekurangan sama sekali tidak pantas menjalin hubungan. 

4. Mampukah Memaklumi Segala Hal yang Tidak Baik Darinya?

Semua orang pasti memiliki sifat dan kebiasaan buruk yang mungkin kamu sangat membencinya. Bisa jadi kamu sangat tidak suka dengan salah satu sifat buruknya, jika kamu sudah bisa memaklumi pasanganmu maka kamu pantas bersama dengannya. Jika dirasa kurang mampu dan tidak bisa memaklumi pasanganmu, maka belum saatnya menjalin sebuah hubungan apalagi sesakral pernikahan. Maka perbaiki niat terlebih dahulu sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. 

5. Jangan Menikah Karena Ingin, Tapi Menikahlah Ketika Sudah Merasa Siap Lahir Batin

Jika sudah siap dngan segala keadaan, tetap mau berkomitmen untuk bersama dalam keadaan suka dan duka maka menikahlah. Tentu semua itu dilandasi dengan kesiapan mental, kesiapan fisik maupun finansial. Yang mau berjuang bersama, mau saling menerima, saling bersyukur serta saling mendengarkan. Karena tanpa saling mendengarkan akan sulit menerima keritikan, sulit memaafkan dan pernikahan pun tidak akan bahagia. Sebab pernikahan sehat itu didalamnya terdapat tanggung jawab yang mana mereka sama-sama mengetahui tanggung jawab masing-masing. Sama-sama bersyukur dengan pasangannya, saling menerima serta berkomitmen untuk selalu bersama. Yang paling penting menikah itu bukan hanya mendapatkan kebahagiaan namun juga ujian dan pengorbanan. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *