Aku dan Bintang – sebuah kisah tentang senja, yang menutup paginya.

Adalah hal yang begitu sulit untuk memaksa ingatan supaya ianya mendustai apa yang ada di ambang kerinduan, meskipun dirinya selalu berdiam di antara suara-suara yang menderu. Hampir setiap hari lisan berbincang bersama angan, melewati gelap yang selalu disajikan oleh mata, senantiasa membasahi dengan hal-hal yang meluluhkan. Nafas berhembus perlahan memberikan dukungan untuk saling bersinergi.
Adalah hal yang begitu sulit untuk memaksa ingatan supaya ianya tak mengenali tangga nada yang sudah lama didengar oleh telinga, suara-suara yang berkicau menggerakkan terang dan petang. Ketukan ruang hampa yang seolah haus dengan benturan setiap lantunan riang penyerunya. Begitu banyak kata yang tercipta dalam denting kebersamaan, saling menyahut, menemani dan menjaga satu sama lain, sehingga menjadi perpaduan yang utuh.
Adalah hal yang terlalu berat untuk meminta kepada hati, supaya ianya tak lagi memahami bahasa ketulusan yang selama ini membalut kasih untuk menjaga kesinambungan dalam terciptanya frasa dan klausa sebelum menjadi kalimat. Setiap literasi yang terjadi, selalu menemukan warna yang menciptakan keindahan paragraf sehingga mampu menjelma menjadi sebuah keterikatan.
Adalah hal yang terlalu berat untuk meminta kepada hati, supaya ianya berhenti dan berganti.
Angan tercipta begitu tinggi, aku bermain di taman langit…

Udara dingin menyeruak benteng-benteng diriku dalam diam yang sedari senja tadi menatap luasnya langit.
Tubuhku dekat dengan bumi dan setiap kedipan mata merajut apa yang kupikirkan dengan apa yang kupandangi.
Angan pun asyik membuat sebuah fiksi ketika bintang-bintang di atas sana bisa tergapai.
Tidak terasa mata terbawa menuju alam bawah sadar tentang indahnya pancaran rasi.
Senyum merekah mendekapmu di malam yang dingin.

Begitu banyak cahaya di atas sana dengan riangnya mereka menyapa.
Seolah ingin menyampaikan sejuta narasi cinta.
Pancarannya menenangkan seakan menyembuhkan semua rindu yang menghujam.
Tetaplah di sini, jangan beranjak.
Pintaku padanya, jika dia adalah dekat dan nyata untuk menemani hingga sirna.

Dekapannya membuatku tersenyum lagi.
Bisikan-bisikan seperti mantra tendengar begitu rinci.
Sinaran membuka sebuah ruang hampa yang putih.
Ketika itu mataku hanya melihatmu, dekat di sini.

Perlahan tampak kembali binar cahaya di atas sana, mereka masih sama.
Bintang-bintang itu masih ada di atas sana.
Kesunyian malam itu tersayat oleh frasa-frasa yang menerpa.
Senyum terurai dalam linang, menceritakan aku dan bintang.

Sumber Gambar Ilustrasi : Unsplash.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *